Egar Law Office

Kisah Inspirasi Dari Bakul Ikan Menuju Gelar Doktor

Jejak Langkah Sang Ahli Hukum :
Kisah Dr. Egar Mahesa
Judul: Dari Bakul Ikan Menuju Gelar Doktor

Di pesisir Pantai Teluk Salule Desa Pangiang Kecamatan Bambalamotu Kabupaten Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat, deburan ombak adalah lagu pengantar tidur bagi Egar Mahesa. Lahir di tengah keluarga sederhana, ayahnya hanyalah seorang nelayan yang setiap hari bertarung dengan ombak demi sekerat nasi. Uang sering kali menjadi barang langka di rumah kayu mereka, namun semangat untuk maju tidak pernah menjadi barang asing di hati Egar. Sejak usia belia, saat teman-temannya sibuk bermain, Egar sudah memikul beban hidup. Ia berkeliling kampung, memanggul keranjang berisi ikan hasil tangkapan ayahnya, berteriak menawarkan dagangan dari satu rumah ke rumah lain. Panas matahari menggelapkan kulitnya, debu jalanan menempel di keningnya, namun setiap rupiah yang ia dapatkan disimpannya rapat, sebagian untuk membantu orang tua, sebagian lagi untuk membeli buku dan keperluan sekolah.

Banyak orang meragukan masa depan anak penjual ikan itu. Namun, Egar punya mimpi besar yang ia simpan dalam diam. Ia percaya, pendidikan adalah satu-satunya jembatan yang bisa mengantarnya keluar dari jerat kemiskinan. Ia belajar mati-matian di sela-sela waktu berdagang, membaca buku di bawah lampu minyak sederhana saat malam tiba. Ketika lulus sekolah menengah, tekadnya bulat: ia ingin mendalami ilmu hukum. Meski dana terbatas, dukungan orang tuanya yang tulus dan kerja kerasnya tak kenal lelah akhirnya membawanya diterima di Jurusan Ilmu Hukum, Universitas Muhammadiyah Palu.

Masa kuliahnya bukanlah jalan yang mulus. Di sela-sela jadwal kuliah yang padat dan tugas-tugas yang menumpuk, Egar tetap menyempatkan diri berjualan ikan kadang Menjadi Loper Koran. Ia sering kali tampil di kelas dengan pakaian sederhana, namun pengetahuannya yang luas dan pemikirannya yang tajam membuatnya berbeda. Ia memilih fokus mendalami Hukum Tata Negara, bidang yang mempelajari dasar-dasar negara dan hak-hak warga negara. Baginya, hukum bukan sekadar aturan tertulis, melainkan alat untuk menegakkan keadilan, sesuatu yang sangat ia pahami dari kacamata masyarakat kecil.

Berhasil meraih gelar Sarjana Hukum tidak membuatnya berhenti. Rasa haus ilmunya mendorongnya melanjutkan ke jenjang Magister di universitas yang sama. Ia semakin mendalami hukum, mempertajam analisis, dan mulai membangun visi besar untuk berkarier di dunia hukum. Setelah menyelesaikan pendidikan S2 dan menyandang gelar Magister Hukum, namanya mulai dikenal sebagai sosok cerdas dan berintegritas. Ia mulai berkarier sebagai pengacara, membela nasib banyak orang, mulai dari kalangan biasa hingga yang membutuhkan bantuan hukum yang rumit.

Namun, Egar merasa ada yang kurang. Ia sadar bahwa penyelesaian masalah tidak hanya butuh pemahaman hukum, tetapi juga pemahaman mendalam tentang jiwa manusia. Maka, ia mengambil keputusan yang berani: melanjutkan pendidikan ke jenjang tertinggi, Program Doktor di Sekolah Tinggi Teologia Ikat Jakarta, dengan konsentrasi Konseling. Keputusan ini unik dan jarang dilakukan orang, menggabungkan pengetahuan hukum dengan keahlian memahami dan menuntun psikologis manusia. Ia harus berjuang lebih keras lagi, membagi waktu antara praktik hukum, mencari nafkah, dan menuntut ilmu hingga ke jenjang tertinggi.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis. Egar Mahesa berhasil menyandang gelar Doktor, lengkap dengan serangkaian keahlian profesional: C.DM., C.MED., hingga CPArb. Namanya kini tercatat sebagai Mediator Non-Hakim dan Arbiter di Dewan Sengketa Indonesia, posisi bergengsi di mana ia bertugas menengahi dan menyelesaikan perselisihan di luar pengadilan dengan bijaksana dan adil.

Kini, ketika orang melihat Dr. Egar Mahesa., SH., MH., C.DM., C.MED., CPArb duduk di ruang sidang atau memimpin rapat penyelesaian sengketa, mereka melihat seorang ahli hukum yang berwibawa dan cerdas. Namun, di balik semua gelar dan penghargaan itu, tersimpan kisah seorang anak nelayan yang tak pernah malu menjajakan ikan demi masa depan. Ia adalah bukti nyata bahwa latar belakang bukanlah penentu nasib, melainkan seberapa besar tekad dan kerja keras yang kita tanam untuk mengubahnya. Dari jalanan berdebu penjual ikan, hingga menjadi pakar hukum dan konselor yang dihormati, jejak langkahnya menjadi inspirasi: mimpi setinggi apa pun pasti bisa diraih, asalkan mau berjuang sekuat tenaga.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *